31/10/11

Share this history on :

Tertawa, gembira dan kejutan adalah bagian dari kebahagiaan dalam hidup seseorang. Namun hal itu tidak berlaku bagi seorang ilmuwan wanita asal Inggris, Claire Allen.


Bagi Allen, tertawa dan kejutan justru dapat menjadi petaka. Terkejut atau tertawa dapat memicu reaksi aneh pada tubuhnya sehingga ia mengalami kondisi tidak sadarkan diri, tidak bisa melihat atau pun bergerak.


Perempuan berusia 35 tahun itu divonis menderita kelainan saraf yang sangat langka di dunia yang disebut cataplexy, sejenis gejala narcolepsy. Cataplexy menyebabkan otot menjadi lemah secara tiba-tiba sehingga seseorang dapat jatuh pingsan saat merasakan emosi sangat kuat seperti tertawa atau pun sedih.


Allen kerap mengalami pingsan akibat hal-hal sepele, misalnya ketika tempat duduknya tiba-tiba digeser orang lain, atau saat berkunjung ke rumah kerabat atau saat berbelanja. Bahkan saat di sapa orang lain di jalan, Allen pun bisa jatuh pingsan. Ia pernah terjatuh dari sepedanya ketika seorang temannya menyahut dari kejauhan.


Dengan kondisi tanpa perawatan, Allen mengaku bisa tahuh pingsan hingga 100 kali dalam sehari. Skali mengalami serangan, ia bisa tak sadarkan diri selama 30 detik hingga lima menit.


'Serangan tersebut diakibatkan saya sering terkejut secara emosional atau mengalami syok. Tetapi tertawa seringkali menjadi pemicu paling kuat. Gejala awalnya, kepala saya seperti mengangguk-angguk seperti anak berusaha untuk bangun. Namun setelah enam bulan, saya selalu pingsan. Beberapa tahun lalu, saya menghentikan konsumsi obat untuk penelitian, dan saya menemukan batas dari gejala saya ini – pingsan sekitar 100 kali sehari,' ujar Allen yang tinggal di Cambridge.


'Serangan ini lebih sering terjadi saat bersosialisasi dengan orang lain, mungkin ketika saya dalam keadaan sadar. Tidak ada rasa sakit, tetapi saya tak bisa bicara, diikuti dengan hilangnya penglihatan. Kemudian tubuh saya roboh,' tutur perempuan yang bekerja sebagai peneliti di British Antarctic Survey itu.


Allen mengalami gejala itu pertama kalinya pada 2004. Awalnya, ia kerap mengalami kesulitan tidur. Dalam semalam saja, ia bisa tiba-tiba terbangun hingga 30 kali. Lalu, Allen mulai sering merasakan otot-ototnya melemah hingga ia benar-benar pingsan.


Saat ini, Allen dapat melewati hari-harinya dengan aktivitas yang lebih normal. Dokter memberinya sejenis obat baru bernama, Xyrem, yang dapat menurunkan gejala-gejala menjadi lebih jarang setiap bulannya. Obat ini juga membuat ia bisa tidur lebih nyenyak antara tiga setengah jam. Ia menenggak obat itu dua kali semalam untuk bisa tidur lelap sampai tujuh jam.

Related Post:

0 comments:

Posting Komentar

Loading

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More